Tradisi
Sejarah Masyarakat Indonesia Sebelum Mengenal Tulisan
Ada
beberapa unsur kebudayaan masyarakat Indonesia
sebelum mengenal tulisan , antara lain:
A.
Sistem Kepercayaan
Kepercayaan
terhadap roh nenek moyang ini terus
berkembang pada masa bercocok tanam hingga
masa perundagian. Pada masa bercocok tanam,
pemujaan roh nenek moyang diungkapkan dengan
upacara penguburan dan tradisi megalitikum, maka orang yang masih hidup
memuja roh tokoh itu untuk tetap dapat
melindungi mereka. Sedangkan pada masa
perundagian kepercayaan terhadap roh nenek moyang
(animisme) makin menguat. Hal ini tampak
dari makin kompleksnya bentuk upacara-upacara
penghormatan, persajian, dan penguburan. Dinamisme,
yaitu kepercayaan yang menganggap bahwa
setiap benda memiliki kekuatan gaib, dan
totemisme, yaitu kepercayaan terhadap hewan
tertentu yang dikeramatkan.
Manusia
yang terdiri atas jasmani dan rohani
memunculkan suatu kepercayaan bersifat rohani
yang kemudian dipersonifikasikan dalam bentuk
riil. Sistem kepercayaan masyarakat Indonesia mulai tumbuh
pada masa hidup berburu dan mengumpulkan
makanan, ini dibuktikan dengan penemuan lukisan
dinding gua di Sulawesi Selatan berbentuk cap
tangan merah dengan jari-jari yang direntangkan.
Lukisan itu diartikan sebagai sumber
kekuatan atau simbol perlindungan untuk
mencegah roh jahat. Manusia di zaman hidup
bercocok tanam sudah percaya adanya dewa
alam yang menciptakan banjir, gunung meletus, gempa
bumi, dan sebagainya.
B.
Sistem Kemasyarakatan
Ketika
manusia hidup bercocok tanam dan jumlahnya
bertambah besar, sistem kemasyarakatan mulai
tumbuh. Gotong-royong dirasakan sebagai kewajiban
yang mendasar dalam menjalani kegiatan
hidup, contohnya seperti menebang hutan,
menangkap ikan, menebar benih, dan
lain-lain. Sistem kegotong-royongan,
kekeluargaan, kerjasama, dan pembagian kerja
makin mantap dalam organisasi mesipun sangat
sederhana. Adanya upacara menunjukan masyarakat
mulai mengenal status sosial, kekerabatan,
dan hubungan perkawinan. Musyawarah merupakan
cara pengambilan keputusan yang tepat.
C.
Pertanian
Sistem
persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia
sejak zaman
neolitikum, yakni
sejak manusia menetap secara permanen (sedenter).
Mereka terdorong untuk mengusahakan sesuatu yang
menghasilkan (food producing). Sistem persawahan
diawali dari system ladang sederhana yang
belum banyak menggunakan teknologi, kemudian
meningkat dengan adanya teknologi pengairan
hingga lahirlah sistem persawahan.
Kehidupan
gotong-royong mulai teraktualisasi dalam system
persawahan ini. Dengan sistem bersawah, sekali
pun sederhana, mereka sudah memikirkan
pengelolaan sawah yang intensif melalui
program Pancausaha Tani (pemilihan bibit unggul,
pengolahan tanah, irigasi, pemupukan, dan
emberantasan hama).
D.
Kemampuan Berlayar
Kemampuan
berlayar sudah dialami cukup lama oleh
bangsa Indonesia, kenyataan ini dilatar belakangi
oleh cara kedatangan nenek moyang bangsa
Indonesia dari dataran Asia. Dan kemampuan
itu terus berkembang di tanah yang
baru, mengingat kondisi geografis Indonesia yang
terdiri dari pulau-pulau. Kemampuan
berlayar ini selanjutnya menjadi dasar
dari kemampuan berdagang. Itulah sebabnya, sejak
awal masehi, bangsa Indonesia sudah mulai
berkiprah dalam jalur perdagangan internasional.
Nenek
moyang bangsa Indonesia datang dari Yunani
sebelum Masehi. Mereka sudah pandai mengarungi
laut dan harus menggunakan perahu untuk
sampai di Indonesia. Kemampuan berlayar ini
dikembangkan di tanah baru, yaitu di
Nusantara, mengingat kondisi geografi di
Nusantara terdiri banyak pulau. Kondisi ini
mengharuskan menggunakan perahu untuk mencapai
kepulauan lainnya. Salah satu cirri perahu
yang dipergunakan nenek moyang kita adalah
perahu cadik, yaitu perahu yang menggunakan
alat dari bambu atau kayu yang dipasang
di kanan kiri perahu. Pembuatan perahu
biasanya dilakukan secara gotong royong oleh
kaum laki-laki. Setelah masa perundagian,
aktivitas pelayaran juga semakin meningkat. Perahu
bercadik yang merupakan alat angkut tertua
tetap dikembangkan sebagai alat transportasi
serta perdagangan. Bukti adanya kemampuan dan
kemajuan berlayar tersebut terpahat pada
relief Candi Borobudur yang berasal dari
abad ke-8. Relief tersebut melukiskan tiga
jenis perahu, yaitu
1.
nperahu besar
yang bercadik,
2.
perahu besar
yang tidak bercadik, dan
3.
perahu lesung
E.
Sistem Bahasa
Bahasa
yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia itu
termasuk dalam satu rumpun bahasa, yaitu
rumpun bahasa Melayu Austronesia atau
bahasa Melayu kepulauan Selatan. Menurut
H.Kern, bahasa Austronesia yang sampai ke
Indonesia ini berasal dari daerah Campa,
Vietnam, Kamboja, dan sekitarnya. Bahasa
ini digunakan oleh masyarakat sebagai alat
komunikasi antara warga yang satu dengan
warga yang lainnya.
F.
Ilmu Pengetahuan
Sebelum
pengaruh Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia telah
mengenal ilmu pengetahuan dan teknologi.
Masyarakat telah memanfaatkan angin musim
sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran
dan perdagangan. Juga mengenai ilmu
astronomi, sebagai petunjuk arah dalam pelayaran atau
sebagai petunjuk waktu dalam bidang
pertanian.
Pengetahuan
astronomi (ilmu perbintangan) sudah dimiliki
nenek moyang bangsa Indonesia. Masyarakat
Indonesia telah mengenal ilmu pengetahuan
dan memanfaatkan teknologi angin musim sebagai tenaga
penggerak dalam aktivitas pelayaran dan
perdagangan. Selain digunakan untuk mengenali
musim, ilmu astronomi juga sudah dimanfaatkan
sebagai petunjuk arah dalam pelayaran,
yaitu Bintang Biduk Selatan dan Bintang Pari
(orang Jawa menyebut Lintang Gubug Penceng)
untuk menunjuk arah selatan serta Bintang
Biduk Utara untuk menunjukkan arah utara.
Kemampuan astronomi dan angin musim ini
telah mengantarkan mereka berlayar ke barat
sampai di Pulau Madagaskar, ke timur sampai
di Pulau Paskah, dan ke selatan
sampai di Selandia Baru serta ke arah utara
sampai di Kepulauan Jepang. Pengetahuan
astronomi juga digunakan dalam pertanian dengan
memanfaatkan Bintang Waluku sebagai pertanda
awal musim hujan.
G.
Organisasi Sosial
Sebagai
makhluk sosial, manusia tidak akan dapat
hidup sendiri tanpa kelompok masyarakat. Kelompok
masyarakat itu lebih dikenal dengan sebutan
suku.
Nenek
moyang kita hidup berkelompok. Mereka
bersepakat untuk hidup secara bersama, hidup
gotong royong, dan demokratis. Mereka
memilih seorang pemimpin yang dianggap dapat
melindungi masyarakat dari berbagai
gangguan termasuk gangguan roh sehingga seorang
pemimpin dianggap memiliki kesaktian lebih.
Cara pemilihan pemimpin yang demikian disebut
primus inter pares, yaitu yang
terutama diantara yang banyak. Jadi,
seorang pemimpin adalah yang terbaik bagi
mereka bersama.
H.
Teknologi
Sejak
masa pra-sejarah, masyarakat Indonesia telah
mengenal teknik pengecoran logam, dan masyarakat
juga telah mengenal teknik pembuatan perahu
bercadik dan perahu bercadik itu dapat
digunakan sebagai sarana transportasi dan
sarana dalam perdagangan.
I.
Kesenian
Masyarakat
pra-sejarah telah mengenal kesenian sebagai hiburan
untuk mengisi waktu senggang. Waktu senggang
itulah yang mereka pergunakan untuk
mewujudkan dan menyalurkan jiwa seni mereka
seperti seni mebuat batik, membuat gamelan,
seni wayang dan lain-lain. Akan tetapi seni
wayang biasanya dipertunjukan setelah panen
dengan lakon cerita tentang kehidupan
alam sekitar mereka.
1.
Kesenian Wayang
Kesenian wayang semula berpangkal
pada pemujaan roh nenek moyang. Semula
wayang diwujudkan sebagai boneka nenek moyang
yang dimainkan oleh dalang pada malam hari.
Dengan beralaskan tirai dan tata lampu
di belakangnya serta boneka yang digerak-gerakkan
sehingga terlihat bayangan boneka seolah-olah
shidup. Jika dalang kemasukan roh nenek
moyang, sang dalang akan menyuarakan suara nenek
moyang yang berisi nasihat-nasihat kepada
anak cucu mereka. Setelah kedatangan hinduisme ke
nusantara maka kisah nenek moyang
digantikan kisah Ramayana dan Mahabharata.
Bonekanya kemudian diganti dengan bentuk
tokoh dalam cerita Mahabharata. Fungsinya pun
beralih sebagai pertunjukan dan penontonnya
melihat dari depan tirai.
2.
Seni Gamelan
Seni gamelan ada kaitannya dengan
seni wayang. Seni gamelan ini dipakai
untuk mengiringi pertunjukkan wayang. Pada waktu
musim bercocok tanam sudah usai masyarakat
kuno itu membuat alat musik gamelan,
mengembangkan seni membatik, dan mengadakan
pertunjukan wayang semalam suntuk untuk
dapat dilihat oleh masyarakat di sekitarnya.
3.
Seni Membatik
Seni membatik merupakan kerajinan
membuat gambar pada kain. Cara menggambarnya
mempergunakan alat canting yang diisi bahan
cairan lilin (orang Jawa menyebutnya malam) yang
telah dipanaskan, lalu dilukiskan pada
kain sesuai motifnya.
J.
Sistem Ekonomi
Masyarakat
pada setiap daerah tidak dapat memenuhi
seluruh kebutuhan hidupnya, untuk itu mereka
menjalin hubungan perdagangan dengan
daerah-daerah lainnya. Hubungan perdagangan yang
mereka kenal pada saat itu adalah
system barter, yaitu pertukaran barang dengan
barang.
Kebutuhan
hidup manusia selalu menuntut untuk dipenuhi.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat
kuno saling bertukar barang (barter) dari
satu wilayah ke wilayah lain.
Jejak Sejarah Indonesia
1.
Folklore
Folklore
sering diidentikkan dengan tradisi dan
kesenian yang berkembang pada zaman sejarah
dan telah menyatu dalam kehidupan
masyarakat. Di dalam masyarakat Indonesia,
setiap daerah, kelompok, etnis, suku, bangsa,
golongan agama masing-masing telah mengembangkan
folklorenya sendiri-sendiri sehingga di Indonesia
terdapat aneka ragam folklore. Folklore ialah
kebudayaan manusia (kolektif) yang diwariskan
secara turun-temurun, baik dalam bentuk
lisan maupun gerak isyarat. Dapat juga
diartikan Folklore adalah adat-istiadat tradisonal
dan cerita rakyat yang diwariskan secara
turun-temurun, dan tidak dibukukan merupakan
kebudayaan kolektif yang tersebar dan diwariskan
turun menurun.
Kata
folklor merupakan pengindonesiaan dari bahasa
Inggris. Kata tersebut merupakan kata majemuk
yang berasal dari dua kata dasar
yaitu folk dan lore. Menurut Alan
Dundes kata folk berarti sekelompok orang
yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik,
sosial, dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan
dari kelompok-kelompok sosial lainnya. Ciri-ciri
pengenal itu antara lain, berupa warna
kulit, bentuk rambut, mata pencaharian,
bahasa, taraf pendidikan, dan agama yang
sama. Namun, yang lebih penting lagi adalah
bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi,
yaitu kebudayaan yang telah mereka warisi
secara turun-temurun, sedikitnya dua generasi,
yang telah mereka akui sebagai milik
bersama. Selain itu, yang paling penting
adalah bahwa mereka memiliki kesadaran akan
identitas kelompok mereka sendiri. Kata lore
merupakan tradisi dari folk, yaitu sebagian
kebudayaan yang diwariskan secara lisan
atau melalui suatu contoh yang disertai
dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat
(mnemonic device). Dengan demikian, pengertian folklore
adalah bagian dari kebudayaan yang
disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam
bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat
pembantu pengingat.
Ciri-ciri Folklore
Agar
dapat membedakan antara folklor dengan kebudayaan lainnya, harus diketahui
ciri-ciri utama folklor. Folklor memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a)
Penyebaran dan
pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu melalui tutur kata dari
mulut ke mulut dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
b)
Bersifat tradisional,
yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
c)
Berkembang dalam versi
yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan penyebarannya secara lisan sehingga
folklor mudah mengalami perubahan. Akan tetapi, bentuk dasarnya tetap bertahan.
d)
Bersifat anonim, artinya
pembuatnya sudah tidak diketahui lagi orangnya.
e)
Biasanya mempunyai
bentuk berpola. Kata-kata pembukanya misalnya. Menurut sahibil hikayat (menurut
yang empunya cerita) atau dalam bahasa Jawa misalnya dimulai dengan kalimat
anuju sawijing dina (pada suatu hari).
f)
Mempunyai manfaat dalam
kehidupan kolektif. Cerita rakyat misalnya berguna sebagai alat pendidikan,
pelipur lara, protes sosial, dan cerminan keinginan terpendam.
g)
Bersifat pralogis, yaitu
mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum. Ciri ini
terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
h)
Menjadi milik bersama
(colective) dari masyarakat tertentu.
i)
Pada umumnya bersifat
lugu atau polos sehingga seringkali kelihatannya kasar atau terlalu sopan. Hal
itu disebabkan banyak folklor merupakan proyeksi (cerminan) emosi manusia yang
jujur.
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, Balai
Pustaka, tahun 1990), folklore merupakan suatu adat
istiadat tradisional dan cerita rakyat yang
diwariskan secara turun-temurun, tetapi tidak
dibukukan. Folklore dapat dibedakan menjadi
dua, antara lain.
a.
Folklore Lisan
Adalah folklore yang diciptakan,
disebarluaskan, dan diwariskan dalam bentuk
lisan, antara lain:
1.
Bahasa Rakyat, adalah
bahasa yang dijadikan sebagai alat komunikasi diantara rakyat dalam suatu
masyarakat atau bahasa yang dijadikan sebagai sarana pergaulan dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Teka-teki, teka-teki
dikenal sebagai sarana hiburan dan latihan mengasah otak atau pikiran.
3.
Puisi, adalah ragam
sastra yang bahasa terikat oleh irama, matra, rima, dan penyusunan lirik dan
bait.
4.
Cerita Rakyat, adalah
suatu ceritera yang disampaikan secara turun-temurun atau dari mulut-kemulut
didalam masyarakat.
5.
Nyanyian Rakyat,
merupakan sebuah tradisi lisan dari satu masyarakat yang diungkapkan melalui
nyanyian atau tembang tradisional.
b.
Folklore Bukan Lisan
Adalah folklore yang diciptakan, disebarluaskan dan
diwariskan tidak dalam bentuk lisan, tetapi dalam bentuk benda-bena hasil
kebudayaan manusia, antara lain:
a.
Arsitektur Rakyat,
merupakan sebuah seni atau ilmu merancang bangunan.
b.
Kerajinan Tangan Rakyat,
pada saat itu kerajinan tangan rakyat hanya dilakukan apa bila ada waktu
senggang atau untuk kebutuhan rumah tangga, dan sebagian besar bahannya diambil
dari bamboo atau kayu.
c.
Pakaian dan Perhiasan
Tradisional, setiap daerah di Indonesia memiliki pakaian atau perhiasan
tradisional yang khas.
d.
Obat-obatan Tradisional,
disetiap masyarakat, selalu ada satu atau beberapa orang yang ahli dalam
mendeteksi penyakit maupun dalam menentukan ramuan yang cocok untuk mengobati
penyakit tersebut, dan bahan ramuannya pun hamper seluruhnya berasal dari alam
Fungsi Folklore
Adapun
fungsi folklor, yaitu sebagai berikut:
a.
Sebagai sistem proyeksi,
yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif.
b.
Sebagai alat pengesahan
pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan.
c.
Sebagai alat pendidik
anak.
d.
Sebagai alat pemaksa dan
pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.
Salah
satu cara kita untuk melacak bagaimana kesadaran sejarah yang mereka miliki
ialah dengan melihat bentuk folklor. Bentuk folklor yang berkaitan dengan
kesadaran sejarah adalah cerita prosa rakyat. Termasuk prosa rakyat antara lain
mite atau mitologi dan legenda.
2.
Mitologi
Istilah
Mitologi telah dipakai sejak abad 15, dan berati “ilmu yang menjelaskan tentang
mitos”. Di masa sekarang, Mitologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997)
adalah ilmu tentang bentuk sastra yang mengandung
konsepsi dan dongeng suci mengenai kehidupan Dewa dan makhluk halus di suatu kebudayaan. Menurut pakarnya, Mitos tidak boleh disamakan dengan fabel, legenda, cerita rakyat, dongeng, anekdot atau kisah fiksi. Mitos dan agama juga berbeda, namun meliputi beberapa aspek.
Mitologi
terkait dekat dengan legenda maupun cerita rakyat. Tidak seperti mitologi, pada
cerita rakyat, waktu dan tempat tidak spesifik dan ceritanya tidak dinggap
sebagai suatu yang suci yang dipercaya kebenarannya. Sedangkan legenda,
meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelakunya pada legenda adalah
manusia bukan dewa dan monster seperti pada mitologi.
Mitologi
juga berarti cerita tentang asal mulanya alam semesta, manusia, dan bangsa yang
diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti sangat dalam.
3.
Legenda
Legenda
(bahasa Latin:
legere) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang mempunyai cerita
sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi. Oleh karena itu, legenda sering kali
dianggap sebagai "sejarah" kolektif (folk history). Walaupun
demikian, karena tidak tertulis, maka kisah tersebut telah mengalami distorsi
sehingga sering kali jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karena itu, jika
legenda hendak dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah, maka
legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari yang mengandung
sifat-sifat folklor Menurut Pudentia
legenda adalah cerita yang dipercaya oleh beberapa penduduk
setempat benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci atau sakral yang juga
membedakannya dengan mite. Dalam KBBI 2005, legenda adalah cerita rakyat pada zaman dahulu yang
ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Menurut Emeis legenda adalah cerita
kuno yang setengah berdasarkan sejarah dan yang setengah lagi berdasarkan
angan-angan. Menurut William R. Bascom legenda adalah cerita
yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap benar-benar
terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Menurut Hooykaas, legenda
adalah dongeng tentang hal-hal yang berdasarkan sejarah yang mengandung sesuatu
hal yang ajaib atau kejadian yang menandakan kesaktian.
Adalah
sebuah cerita rakyat pada masa lampau yang masih memiliki hubungan dengan
peristiwa-peristiwa sejarah atau dengan dongeng-dongeng seperti cerita tentang
terbentuknya suatu negeri, danau, gunung, dan sebagainya. Contoh : Leganda Wali Song, Ande-Ande Lumut, dll.
4.
Upacara
Adalah
rangkaian tindakan atau perbuatan yang terkait pada aturan-aturan tertentu berdasarkan
adat istiadat, agama, atau pun kepercayaan. Adapun jenis-jenis upacara, antara
lain:
a.
Upacara Penguburan,
merupakan upacara yang pertama kali dikenal dalam kehidupan manusia sebelum
mengenal tulisan atau sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha. Upacara ini muncul
karena kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal akan pergi ke suatu tempat yang
tidak jauh dari lingkungan dimana ia pernah tinggal.
b.
Upacara Perkawinan,
dalam arti yang lebih luas, perkawinan tidak hanya melibatkan dua orang yang
saling mencintai tetapi juga melibatkan keluarga dari kedua mempelai.
c.
Upacara Pengukuhan
Kepala Suku, untuk menjadi seorang kepala suku, seseorang harus terbukti
memiliki kekuatan, keahlian, pengalaman, atau pengaruh yang lebih dibandingkan
dengan orang lain karena beratnya tanggung jawab yang akan dipikulnya. Biasanya
kepala suku berfungsi sebagai pelindung kelompok sukunya dari berbagai ancaman.
d.
Upacara Sebelum Perang,
pada saat itu peperangan antar kelompok sering sekali terjadi, dan biasanya
peperangan disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
·
Masalah perbatasan
·
Ingin menguasai daerah
dari kelompok suku lain
·
Masalah yang timbul dari
hubungan yang kurang harmonis antaranggota dari kedua kelompok suku
·
Membuktikan ketangguhan
dan kekuatan dari masing-masing kelompok sukunya
·
Mempertahankan harga
diri suku.
5.
Lagu Daerah
Lagu
merupakan syair-syair yang ditembangkan dengan irama yang menarik, sedangkan
lagu daerah adalah lagu yang menggunakan bahasa daerah. Nyanyian rakyat menurut Jan Garlod Brunvand dianggap sebagai salah satu bentuk (genre) Folklore yang terdiri dari teks dan
lagu yang beredar secara lisan diantara anggota kolektif tertentu dan mempunyai
banyak varian.
Fungsi nyanyian rakyat :
1.
Membebaskan
orang dari kejenuhan dan untuk menghibur diri meskipun hanya bersifat sementara sehingga
nyanyian menjadi pelipur lara.
2.
Mambangkitkan
semangat
3.
Memelihara
sejarah tempat san klan (Keluarga Besar)
4.
Mengunkapkan
suatu bentuk protes sosial terhadap yang terjadi.
Daftar Beberapa lagu daerah
|
No
|
Nama Lagu
|
Asal Daerah
|
|
1
|
Sajojo
|
|
|
2
|
Sansaro
|
|
|
3
|
Sapu Nyere Pegat Simpai
|
|
|
4
|
Saputangan Bapuncu Ampat
|
|
|
5
|
Sarinande
|
|
|
6
|
Saule
|
|
|
7
|
Say Selamat Masinegar
|
|
|
8
|
Sayang Kene
|
|
|
9
|
Selendang Mayang
|
|
|
10
|
Sengko-sengko
|
|
|
11
|
Seringgit Dua Kupang
|
|
|
12
|
Si Patokaan
|
|
|
13
|
Bajing Luncat
|
Jawa Barat
|
|
14
|
Sinanggar Tulo
|
|
|
15
|
Sing Sing So
|
|
|
16
|
Sinom
|
|
|
17
|
Sirih Kuning
|
|
|
18
|
Sitara Tillo
|
|
|
19
|
Soleram
|
|
|
20
|
Sory Ya Katulla
|
|
|
21
|
Sudah Berlayar
|
http://myblogkujira.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar